"Saya mendaftar sejak 11 tahun lalu, 2011, baru sekarang bisa berangkat (naik haji)," ujar Mariano.
Si kembar, Mariano dan Mariana sehari-hari bekerja sebagai petani perkebunan karet di Desa Sipaho. Selama 11 tahun, keduanya menabung sebanyak Rp200.000 per minggu hingga akhirnya terkumpul dan bisa disetor sebagai biaya naik haji.
Soal jodoh menjadi salah satu doa khusus yang akan dipanjatkan Mariano dan Mariana di depan Kabah.
"Kan kami belum menikah. Doa kami dari kampung, jika betul kami berangkat (naik haji) ke Tanah Suci. Semoga ketika pulang dari Tanah Suci, ada jodoh buat saya. Saya mau kawin. Pertama doa minta jodoh, kedua minta rezeki," ujar Mariano, yang diamini Mariana.
Terkait pelayanan haji 2022 yang disediakan pemerintah Indonesia, Mariano dan Mariana merasa puas. "Kami diberikan makanan dan diberikan pelayanan selama berangkat," kata dia.
Editor : Asep Juhariyono