Kondisi Jembatan Penghubung Desa Terpencil Tasikmalaya-Garut, Kayu Sudah Lapuk Tanpa Pengaman

Nanang Kuswara
.
Jum'at, 03 Desember 2021 | 09:26 WIB
Warga nekat menyeberangi Jembatan Cawiri yang terletak di Kampung Citiwuan, Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, yang kondisinya ekstrim dengan badan jalan jembatan dari kayu lapuk tanpa pengaman pada bagian sisi kiri dan kanannya. (Foto: iNewsTasikmalaya.id/Nanang Kuswara)

TASIKMALAYA, iNews.id - Jembatan Cawiri di Kampung Citiwuan Desa Campakasari Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya, merupakan jembatan gantung penghubung dengan Desa Simpang Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, kondisinya sangat rawan.

Kondisi badan jalan jembatan gantung tersebut dari kayu lapuk tanpa pengaman pada bagian sisi kiri dan kanannya.

Jembatan sepanjang 85 meter dengan lebar 5 meter tersebut dibangun di atas Sungai Cikaengan dan tengah menjadi perhatian NU Care-LAZISNU yang melakukan penggalangan dana untuk membangun kembali jembatan yang sangat dibutuhkan masyarakat tersebut.

Pasalnya, masyarakat dari kedua daerah selalu keluar masuk kawasan masing-masing untuk berbagai kepentingan.

Banyak anak-anak baik dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya yang bersekolah ke daerah Kabupaten Garut, ataupun sebaliknya ada juga anak-anak yang menuntut ilmu di daerah Tasikmalaya.

Tim dari NU Care-LAZISNU sendiri melakukan penggalangan dana setelah dihubungi Relawan Perangkat Desa Campakasari Ina Nabila yang khawatir melihat keseharian warga bertaruh nyawa menyeberangi jembatan tersebut.

“Memang ada alternatif jembatan lain, tetapi jaraknya mencapai 5 kilometer itupun harus berjuang menempuh perjalanan dengan kondisi jalan yang rusak berat. Jembatan itu sangat dibutuhkan oleh warga untuk kebutuhan akses perekonomian, pendidikan, dan lain sebagainya,” ungkap Ina seperti dikutip dari instagram NU Care-LAZISNU, Jumat (3/12/2021).

Sementara itu, Kepala Desa Campakasari Sutisna menyebutkan, kondisi jembatan itu memang cukup mengkhawatirkan dan bahkan sempat ada korban jiwa ketika kondisi air sungai deras dan warga yang melintas terjatuh.

Sekitar rentang antara tahun 2004 hingga 2019 silam, dimana jenazahnya ditemukan cukup jauh dari lokasi.

“Alhamdulillah memang ada relawan dan saat ini penggalangan dana sedang dilaksanakan, namun saya berharap pembangunannya nanti tidak menggunakan kayu tetapi menggunakan pelat saja. Karena kalau kayu mudah lapuk dan akhirnya kami yang harus swadaya menggantinya, kalau pelat lumayan lama,” ujar Sutisna.

Sutisna menyebutkan, sebenarnya ada dua jembatan yang kini tengah menjadi perhatian disana yakni satu lagi Jembatan Leuwinanggung yang diharapkan pembangunannya bisa lebih besar sehingga bisa dilalui kendaraan roda empat.

“Harapan saya kepada Pemprop Jabar ada perhatian untuk pembangunan Jembatan Leuwinanggung ini, sehingga roda empat bisa melaluinya. Karena kalau dari jalan darat akses sangat sulit, mudah-mudahan saja jalan lain dari Garut melalui jembatan ini perekonomian bisa tumbuh,” pungkasnya.

Editor : Asep Juhariyono
Bagikan Artikel Ini