"Ketika Ivan menanyakan kabar, Yulianto mencoba pergi, sehingga terjadi ketegangan fisik yang berujung pada pemukulan," jelasnya.
Kunkun juga menyatakan bahwa tindakan pemukulan tersebut merupakan reaksi spontan dari Ivan yang merasa terprovokasi oleh sikutan Yulianto.
“Ivan bereaksi di luar kendali karena merasa tersulut oleh tindakan Yulianto,” tambahnya.
Selain mengklarifikasi insiden kekerasan ini, Kunkun menolak anggapan bahwa Ivan terlibat sebagai perwakilan kontraktor dalam proyek pembongkaran di SMPN 5.
Ia menegaskan bahwa Ivan tidak memiliki keterlibatan apapun dalam proyek tersebut. "Ivan hanya membantu menjelaskan situasi atas permintaan Kadisdik, bukan sebagai kontraktor," tegasnya.
Sementara itu, Yulianto sendiri telah melaporkan kasus kekerasan ini ke pihak kepolisian. Sebelumnya, Yulianto diketahui tengah melakukan investigasi terkait dugaan pembangunan fiktif di SMPN 5 Kota Banjar ketika insiden ini terjadi. Saat ini, kasus kekerasan yang dialami Yulianto masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Kasus ini menjadi sorotan publik, tidak hanya karena kekerasan yang dialami seorang jurnalis, tetapi juga karena terkait dengan isu pembangunan di Banjar yang sedang menjadi perhatian banyak pihak.
Editor : Asep Juhariyono
Artikel Terkait