TASIKMALAYA, iNewsTasikmalaya.id – Tim Pengabdian pada Masyarakat (PkM) dari Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Negeri Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya menggelar pelatihan penggunaan alat antropometri kepada para kader posyandu di Puskesmas Kawalu, Kamis (15/8/2024).
Pelatihan bertajuk Peningkatan Kapasitas Kader dalam Pemantauan Pertumbuhan dan Penggunaan Alat Antropometri untuk Mengoptimalkan Deteksi Stunting pada Bayi dan Balita, dipimpin oleh Ketua Tim PkM Dosen Prodi Kesmas FIK Unsil Tasikmalaya, Rian Arie Gustaman, SKM., M.Kes, bersama anggota tim lainnya, termasuk Dr. Siti Novianti, SKM., M.Kes, Nur Lina, SKM., M.Kes (Epid), Sri Maywati, SKM., M.Kes, Iseu Siti Aisyah, Sp., M.Kes, dan Dr. Prima Endang Susilowati, M.Si.
Rian Arie Gustaman, mengatakan, bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan penggunaan alat antropometri yang terdiri dari perangkat untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala bayi dan balita. Selain memberikan edukasi, tim PkM juga menyerahkan alat-alat tersebut kepada Puskesmas Kawalu.
"Kami memberikan satu paket lengkap alat antropometri yang standar dari Kementerian Kesehatan. Dengan alat yang tepat dan pelatihan ini, diharapkan kesalahan dalam pengukuran bisa diminimalisir," ujar Rian.
Pemilihan Puskesmas Kawalu sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawalu dipilih karena memiliki populasi terbesar di wilayah Kota Tasikmalaya dan karena kerja sama yang baik dari pihak puskesmas. Rian berharap, pelatihan ini dapat mengurangi kesalahan pengukuran dan meningkatkan akurasi data mengenai kondisi balita di lapangan.
Kepala Puskesmas Kawalu, dr. Budy Nugraha, M.M.Kes, menyampaikan terima kasih kepada tim PkM dari Unsil atas pelaksanaan pelatihan ini. Menurutnya, kolaborasi ini penting karena masalah kesehatan, terutama stunting, memerlukan keterlibatan semua pihak.
"Pengabdian masyarakat seperti ini sangat membantu kami dalam meningkatkan kapasitas kader posyandu. Kami mengapresiasi dukungan akademisi dalam upaya mengatasi masalah kesehatan di wilayah kami," ungkap Budy.
Budy menjelaskan, bahwa data dari Sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) menunjukkan prevalensi stunting di Kawalu masih tinggi. Dari sekitar 2.300 sasaran, 500 di antaranya berisiko stunting, yang memerlukan validasi lebih lanjut.
Dengan adanya alat antropometri baru, Budy berharap para kader dapat lebih efektif dalam mendeteksi stunting pada bayi dan balita. "Alat ini akan kami alokasikan khususnya untuk posyandu yang membutuhkan, sehingga bisa membantu dalam pemantauan pertumbuhan anak," tutupnya.
Editor : Asep Juhariyono
Artikel Terkait